Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Social Icons

Minggu, 16 Desember 2012

Perancangan Sun Dome Flexible Green House (SDFGH) sebagai Rumah Masa Depan Indonesia


     Selamat malam pembaca indtech, kita tahu bahwa perkembangan rumah di Indonesia masih tetap berfokus atas rumah-rumah tinggal yang terbuat dari material beton ataupun kayu. Dan pada prinsipnya, rumah tersebut memang tetap memiliki fungsi sebagai tempat berlindung dan melakukan aktifitas-aktifitas manusia normal pada umumnya. 
      
      Namun pada kesempatan kali ini saya ingin mengulas salah satu konsepan rumah yang memiliki teknologi tinggi hasil karya mahasiswa Politeknik Negeri Malang yang pernah diikut sertakan pada Lomba Gagasan Rumah Kreatif (LoGRaK) Smart Green House pada 26 April 2012. Hasil dari perencanaan ini mendapatkan Juara 1 mengungguli universitas favorit lain seperti Universitas Indonesia yang hanya mampu meraih Juara 2.  

      Dalam suatu wawancara dengan tim yang terdiri dari Aryo adhi nugraha (tingkat 3 / program studi JTD), Dwi yani trisusanto (tingkat 3 / program studi JTD), Rifky dwi faradila (tingkat 3 / program studi JTD) dan Ika yunita utami (tingkat 3 / program studi Manajemen Informatika), mereka menjelaskan mengenai konsep lombanya, yaitu setiap tim diwajibkan merancang model rumah pintar yang memadukan antara teknologi saat ini dan alam.

       Setelah melakukan diskusi dan pencarian referensi ilmiah, akhirnya mereka membuat rancangan rumah pintar yang diberi nama Sun Dome Flexible Green House (SDFGH). “Konsep SDFGH atau Sun Dome Flexible Green House adalah perpaduan dari bidang teknologi yang saling mendukung untuk menciptakan sebuah konsep rumah sehat dan menggunakan energi alternatif serta didukung teknologi untuk meningkatkan kenyamanan pemiliknya. Konsep SDFGH punya empat pilar utama, yaitu : Sun Energy, Dome Construction, Flexible Control, dan Green Alga.” Terang Ika yunita.

Sun Energy

     Lebih jauh lagi mereka menjelaskan mengenai empat pilar utama,”Untuk sun energy, artinya kami menggunakan panel surya yang nantinya akan menyerap sinar matahari kemudian diubah menjadi energi listrik. Penggunaan panel surya merupakan hal yang sangat penting mengingat persediaan bahan bakar fosil yang akan segera habis. Disamping itu, sinar matahari merupakan sumber energi yang terbaharui.”
Dome Construction

     “Mengapa harus dome construction? karena biar tahan gempa. Di jepang sudah banyak rumah yang menggunakan tipe dome. Tetapi di Indonesia masih belum ada. Untuk konstruksi pondasi sendiri menggunakan struktur pondasi bebas yang memiliki fungsi untuk menyalurkan gaya luar ataupun dalam secara merata disemua sisi bangunan. Konstruksi dome house ini dibungkus larutan oksidan yang dapat mengatasi asma, rinitis dan semua gejala sick-house syndrome dan chemical sensitivity syndrome. Dengan larutan antioksidan itu juga dapat menekan oksigen sehingga sirkulasi udara di dalam rumah sangat bagus. Selain itu dome house bebas dari bahan kimia bahaya seperti flexiblemaldehid, pestisida, dan lain-lain. Selain meningkatkan kesehatan, dome house lebih tahan terhadap tekanan angin dikarenakan fungsi bentuk yang meneruskan aliran angin.” Terang mereka panjang lebar.
Flexible Control

     “Untuk flexible control, maksudnya adalah membuat rumah mampu secara otomatis melakukan perpindahan penggunaan sumber daya listrik dari baterai panel surya yang habis (ketika sinar matahari tidak mampu menyuplai dengan cukup) menjadi menggunakan energi PLN atau biodiesel. Juga siklus udara diluar ruang dan didalam ruang dikontrol sesuai logika fuzzy yang pada praktiknya menggunakan sensor. 
Green Alga

        Sedangkan pilar keempat yaitu green alga yang dalam hal ini memakai jenis alga mikro dan berfungsi sebagai bahan dasar biodiesel. Biodiesel yang digunakan dalam rancangan ini dimaksudkan sebagai tindakan preventif apabila energi dari panel surya tidak mampu memenuhi kebutuhan energi dalam satu rumah. Artinya, biodiesel bertindak sebagai energi cadangan. Dalam satu hektar, jika menggunakan jenis alga mikro, maka bisa menghasilkan 10ribu galon.” Kata Ika yunita yang merupakan mahasiswi asli Kota Malang.

        Ketika ditanya mengenai pembagian kerja dalam tim, mereka menjelaskan,”Aryo sebagai ketua tim bertugas membuat animasi 3D yang diupdload di situs youtube.com atau lebih tepatnya cek : www.youtube.com/watch?v=IU2NFaNyPYk&feature=youtu.be , kemudian meneliti alga melalui jurnal ilmiah dan juga langsung ke peternak alga, sekaligus membuat perencanaan panel surya. Rifky mengerjakan pembuatan poster, analisa pembuangan sisa-sisa dalam rumah yang nanti disaring untuk menyirami alga. Untuk Dwi mendapatkan bagian untuk analisis mengenai siklus udara di luar rumah dan di dalam rumah menggunakan logika fuzy dengan tujuan agar suhunya seimbang. Sedangkan Ika sendiri bertugas membuat laman web dari SDFGH, halaman fanspage, dan semua hal yang berbau internet.”
     Berikut video sekilas dari Sun Dome Flexible Green House (SDFGH) : 

        Dari penjelasan yang cukup detail mengenai perencanaan SDFGH oleh tim asal Politeknik Negeri Malang (Polinema) ini, kita sebagai intelektual muda juga harus membantu untuk meningkatkan penelitian lebih lanjut sehingga kedepannya rumah pintar ini bisa benar-benar terwujud. Apabila rumah pintar ini bisa terwujud, tentulah Indonesia akan semakin dikenal di dunia sebagai negara kreatif dan penuh inovasi, dikarenakan belum adanya konsep rumah pintar seperti ini di negara-negara besar lainnya. Bravo Polinema ! Bravo Indonesia ! (rachmat)

0 komentar:

Posting Komentar